Ini yang Diterapkan Petani Mabar untuk Memenuhi Permintaan Sayur dari Hotel-Hotel di Labuan Bajo

penanaman sayur secara simbolis di Lingko Golo Koe, Nggorang, Selasa (27/8/2019) pagi.
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

LABUAN BAJO, LBJN—Sejumlah petani di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), saat ini mulai melakukan pengembangan berbagai jenis sayur untuk memenuhi tingginya permintaan kebutuhan sayur dari hotel-hotel di Labuan Bajo.

Pengembangan sayur-sayuran itu dilakukan bersama dengan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Mabar Anggalinus Gapul menyampaikan bahwa pengembangan sayur dilakukan di 12 kecamatan di Mabar tetapi paling banyak di Kecamatan Komodo, salah satunya yaitu di Lingko Golo Koe Desa Nggorang, Kecamatan Komodo.

“Untuk memenuhi permintaan kebutuhan dari sejumlah hotel di Labuan Bajo, kami bersama kelompok petani menanam berbagi jenis sayur. Total lahan sayur di Mabar saat ini seluas 28 hektar,” kata Anggalinus saat penanaman sayur secara simbolis di Lingko Golo Koe, Nggorang, Selasa (27/8/2019) pagi.

Dia menambahkan, tingginya kebutuhan sayur itu diketahui dari hasil survei beberapa waktu sebelumnya.

Jenis-jenis sayur yang ditanam antara lain picai, tomat, kol serta buahan-buahan seperti semangka. Pola tanamnya, kata dia, menggunakan pertanian organik.

Sedangkan khusus di lahan yang ketersediaan airnya terbatas, sistem yang dipakai adalah menerapkan irigasi tetes. Penerapan pola itu, kata dia, bisa menghemat penggunaan air. Selain itu petani sendiri bisa mengatur kapan lahan sayur diberikan air dan kapan dihentikan.

Hal yang penting, kata dia, adalah ada sumber air. Pihaknya memasang pipa untuk suplai air ke lahan.

Usia sayur-sayuran itu rata-rata tiga bulan sudah bisa dipanen. Namun tanaman itu tidak ditanam serempak tetapi menggunakan interval waktu.

“Kalau ditanam serempak maka panennya juga serempak dan berdampak pada banyaknya hasil produksi sehingga bisa berakibat menurunnya harga. Makanya kami menggunakan interval waktu antara satu minggu sampai tiga minggu,” kata Anggalinus.

Sementara itu, Kepala Desa Nggorang Abubakar Sidik, mengapresiasi Dinas Pertanian Mabar atas pengembangan sayur di desanya.

“Semoga lahan lain yang masih kosong di desa kami juga bisa dijadikan sebagai lahan baru untuk pengembangan sayur,” kata Sidik.

Harapan dari Kepala Desa itu direspon positif oleh Anggalinus. Anggalinus berjanji untuk segera melakukan survei pada lahan-lahan yang dimaksud. (L4)

google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini