Wa’u Wae, Tradisi Unik Dalam Perkawinan Manggarai

Tokoh Adat Kampung Wersawe, Kecamatan Mbeliling, Mabar, menggelar ritual adat kepada Pengantin baru

MBELILING, LBJN — Wa’u Wae atau mandi di mata air bagi pengantin baru merupakan salah satu ritus dalam adat perkawinan orang Manggarai. Tradisi unik ini masih dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Ritus memandikan pengantin di mata air ini dilakukan usai peneguhan perkawinan secara adat. Biasanya, usai pernikahan adat, kedua pengantin dipingit di rumah pengantin pria. Setelah empat hari dipingit, saat matahari terbit, kedua pengantin diarak oleh keluarga dan dipimpin oleh tu’a golo atau tokoh adat menuju mata air.

Setelah tiba di mata air, kedua mempelai dikeramas oleh ibu-ibu. Kemudian tu’a golo mengambil air dari mata air lalu mengguyur kepala kedua mempelai.

Upacara kemudian dilanjutkan dengan membelah kelapa di atas kepala mempelai. Rembesan air kelapa yang dibelah sengaja dibiarkan mengenai kepala kedua mempelai dan tetesan airnya diminum oleh kedua mempelai.

Thomas Pura, tu’a adat Warsawe, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling menjelaskan upacara Wa’u Wae bertujuan mendoakan kedua mempelai agar rumah tangganya memperoleh rejeki dan keturunan.

“Air dari mata air itu simbol rejeki terus mengalir, tidak pernah kering. Sedangkan air dari buah kelapa merupakan harapan agar keturunannya juga berkembang seperti buah kelapa yang bersusun-susun,” jelas Thomas. (L-1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini