Ini Persoalan Investasi yang Dialami Pengusaha Pariwisata di Labuan Bajo

Pemandangan Salah Satu Sudut Pantai di Labuan Bajo

LABUAN BAJO, LBJN—Sejumlah persoalan investasi di Labuan Bajo mulai dialami oleh pengusaha pariwisata saat ini. Pemerintah daerah diminta untuk memperhatikan secara serius berbagai masalah itu untuk memberikan kenyamanan dalam berinvestasi.

“Listrik sering mati, telekomunikasi putus-putus, signal nggak kuat, air ngadat pengusaha terpaksa beli air yang berkapur. Jadi banyak yang harus Pemda perhatikan. Jangan hanya berharap investor datang terus, semakin banyak datang semakin banyak kebutuhan mereka harus kita penuhi,” kata pengusaha hotel dan restaurant di Labuan Bajo, Matheus Siagian, Minggu (15/9/2019).

Menurutnya, Pemda Mabar harus manyadari bahwa yang mereka sediakan untuk pengusaha masih sangat minim.

“Beban pengusaha di Labuan Bajo masih tinggi, perlu diingat, pertama air masih harus beli. Kedua, listrik sering mati sehingga harus pakai genset,” kata Matheus.

Hal lain kata Dia, selain berusaha meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, juga bagaimana uang yang dikeluarkan oleh turis bisa terserap sampai ke masyarakat menengah ke bawah.

“Salah satu contoh, wisatawan yang menggunakan kapal pesiar, dia langsung ke Loh liang, turun dari kapal lihat komodo. Selanjutnya Pulang. Kontribusi atau nilai tambah, terutama uangnya 0,0 persen dirasakan masyarakat Manggarai Barat,” kata Matheus.

selain masalah yang diuraikan diatas, problem laiinya di wilayah Mabar adalah persoalan tenaga kerja asing.

“Tenaga kerja asing bekerja di Labuan Bajo hanya berkisar enam bulan sampai satu tahun. Setelah itu kembali ke negaranya. Sedangkan kalau tenaga kerja lokal semua, tentu mereka tinggal di sini, punya anak di sini, uangnya berputar di sini,” kata Matheus.

Pengusaha di Labuan Bajo kata dia, perlu didorong untuk terus menciptakan lapangan kerja dan menggunakan tenaga kerja lokal, bukan tenaga kerja asing.

Selain itu pemerintah harus serius menciptakan iklim investasi yang sehat dan mendukung pengusaha lokal dalam investasi. “Paksa kapal pesiar berlabuh di Labuan Bajo. Lalu dari Labuan Bajo naik kapal kecil ke Komodo. Sehingga yang tidak mau lihat komodo akan jalan-jalan di Labuan Bajo. Uangnya akan terserap. Intinya Pemda harus kreatif,” kata Matheus.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Mabar, Gusti Rinus, sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya melakukan penataan dan pembenahan demi peningkatan pengelolaan potensi pariwisata di daerah itu. (L4)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini