Mantan Kondektur Ini Jadi Pimpinan DPRD di Matim

Bernardus Imanuel dengan mantan Presiden RI BJ Habibie (almarhum).

BORONG, LBJN — Ingin hidup lebih baik mendorong Bernardus Imanuel muda, bekerja keras setelah lepas pendidikan menengah pertama tahun 1991 silam.

Ia memilih tinggal di kampung bersama keluarganya di Poco Ranaka, Manggarai Timur (Matim). Suasana di kampung saat itu membuatnya tidak nyaman karena tidak ada aktivitas.

Demi mengubah nasip, Bernadus ikut bekerja sebagai buruh proyek jalan raya di kampungnya. Ia bekerja sebagai tukang foto, menjual barang dengan serbet gendongan.

Menjadi kernet (kondektur) di Ruteng, kemudian sopir angkutan kota. Setelah itu, ia mengikuti kakaknya hijrah ke Makasar, Sulawesi Selatan.

Awal Iman (di perantauan Bernardus lebih dikenal Iman-red), pindah ke Jakarta ternyata buah dari kebaikannya menolong seorang politisi PAN asal Makasar Sulawesi Selatan pada suksesi Pemilihan Legislatif Tahun 1999. Politisi PAN di Makasar itu hendak dibunuh orang, dan dibantu oleh Iman.

Karena kedekatan itulah, orang Makasar itu membawa Iman ke Jakarta dan memperkenalkannya kepada Amin Rais, pendiri Partai Amanat Nasional. Iman juga diperkenalkan kepada Prabowo dan Akbar Tanjung.

Iman lalu mendirikan sebuah konveksi dan percetakan sehingga bisa bertemu dengan Wiranto pada tahun 2003. Saat itu Wiranto maju Calon Presiden dan semua pencetakan baliho miliknya diserahkan kepada Iman.

Saat Wiranto mendirikan Partai Hanura tahun 2007, cerita Iman, ia termasuk di dalam proses pembentukan itu, dan dipercayakan Wiranto sebagai Ketua Pasti yakni Ketua Pasukan Inti Partai.

Lembaga ini khusus menangani bidang keamanan semua kegiatan Partai Hanura kemana pun Wiranto berjalan. Sampai akhirnya, Tahun 2016 Iman meminta kepada Wiranto untuk menjadi pengurus Hanura di Manggarai Timur dan maju menjadi calon anggota legislatif.

Dalam bincang santai per telepon dengan Labuanbajonews, Rabu (11/9/2019), Iman menceritakan suka duka perjalanan hidupnya.

“Saya lahir dari keluarga yang susah dan saya bertekat hidup lebih baik dari orang tua saya, lebih baik dari keluarga saya,” cerita Bernardus, demikian ia kini disapa.

Saat pulang tahun di Matim tahun 2017, Iman merasa prihatin dengan kondisi kampung halamannya. Setelah 73 tahun Indonesia merdekat, kampung halamannya sama sekali belum merdeka.

“Matim belum merdeka. Saya terharu sekali dengan kata-kata itu,” kata Iman merujuk pernyataan Andre Garu pada suatu kesempatan berkunjung ke desanya.

Iman memilih kendaraan politik Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Setelah direstui Wiranto, lalu Ketua DPW Hanura NTT Jimi Sianto, dan diterima pengurus Hanura Matim, ia akhirnya kembali ke Matim menjadi pengurus Partai Hanura.

“Yang menyekolahkan saya itu pak Wiranto,” kata Iman.

Meski baru pertama ikut pemilihan legislatif di 2019, Iman langsung mendapat kepercayaan dari Dapil II Matim dan kini dipercayakan menjadi Wakil Ketua 1 DPRD Matim untuk periode 2019-2024.

Ia pun berkomitmen memperjuankan masyarakat di Dapilnya yakni Kecamatan Poco Ranaka dan Poco Ranaka Timur.

Iman mempunyai kiat sukses dalam pergaulan pun dalam berkarir yakni kejujuran. Menurunya kejujuran itu sangat mahal.

“Orang tidak jujur mencari keselamatan sesaat, tetapi kejujuran menyelamatkan kita selamanya,” kata Iman.

Bagi Iman tidak ada yang perlu ditakutkan di dalam hidup ini selain Tuhan. Yang terpenting selalu memegang teguh kejujuran.

Spirit ini pula yang senantiasa dipegang Iman termasuk dalam perjuangannya bagi kepentingan masyarakat Matim.

“Saya sangat terharu melihat kampung halaman saya, dan infrastruktur menjadi prioritas perjuangan saya sebagai wakil rakyat,” kata Iman. (L-1)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini