Bagian Dua : Ritus-Ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Adi M. Nggoro.
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ritus Barong Lingko

LABUAN BAJO, LBJN — Setelah kita melihat sekilas pandang ritus libur kilo, maka selanjutnya membahas ritus barong lingko.

Secara historis ketika leluhur Manggarai membangun sebuah kampung, maka pertama-tama harus dibangun adalah rumah adat (mbaru gendang). Pada mbaru gendang inilah sebagai tempat manusia berkumpul untuk melahirkan pikiran,  konsep, gagasan  lokal untuk diejawantahkan dalam aktifitas sehari-hari.

Sebagai leluhur Manggarai pada awalnya berstatus pekerjaan sebagai petani, baik petani ladang maupun petani sawah maka suatu hal yang tak terbantahkan ialah mestinya juga  memiliki kebun sebagai tempat warga kampung bekerja (lingko).  

Oleh karena itu simbol jati diri warga kampung yang terintegrasi dalam tata ruang budaya gendang dan lingko. Atas dasar itu sangat logis menguaknya filosofi fundamental, “gendang one lingko pe’ang” (gendangn one lingkon pe’ang).  Filosofi gendang one lingko pe’ang  mengindikasikan suatu ekspresi relasional yang terintegrasi dan sakral (magis religious).

Baca Juga : Ritus-Ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Ritus barong lingko (melakukan sesajian di kebun) dalam tradisi penti adalah hal yang urgen dan wajib dilakukan. Tujuan Ritus Barong lingko adalah untuk memuji dan bersyukur pada Tuhan (Mori Jari Dedek) yang telah menyediahkan tanah yang subur unuk bertani dan menemukan hasil panen yang baik dan berguna (lincik ici weras wua).

Gendang dan Lingko mempunyai titik sentral masing-masing untuk mengikat kebersamaan dalam cipta, rasa dan karsa. Sehingga aktifitas Duat gula we’e mane menggambarkan relasional cipta, rasa dan karsa antara gendang sebagai tempat star bekerja dan  lingko, sebagai tempat bekerja.

Melalui gendang (siri bongkok) manusia Manggarai bersatu padu, berdemokrasi untuk melahirkan gagasan, pikiran, serta tempat mengolah kondiri badan yang prima (bersatu jiwa raga, nurani dan kalbu) dan melalui lingko (lodok) pula manusia Manggarai bersatu padu bekerja keras  (dempul wuku tela toni=tumpul kuku membelah punggung), sehingga mampu mempertahankan hidup dan kehidupan (na’ang bara wengko weki).

(Bersambung)

(Oleh Adi M. Nggoro, Dosen Unika St. Paulus Ruteng, kini tengah melanjutkan studi Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang).

google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini