Bagian Empat: Ritus-ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Adi M. Nggoro.

Ritus Barong Compang

Peran pohon dalam pandangan leluhur Manggarai mengandung dua kekuatan, yaitu kekuatan baik dan kekuatan jahat.  

Pertama, pohon yang berkekuatan yang baik. Pohon yang berkekuatan baik adalah mencakup beberapa kekuatan yaitu (1) melalui pohon yang rindang dapat menghasilkan sumber mata air bagi manusia dan alam sekitarnya. Pohon-pohon besar pada umumnya tumbuh di hutan-hutan. 2) Pohon merupakan bahan material untuk membangun sebuah rumah, sebagai tempat tinggal leluhur Manggarai. (3) Pada pohon tempat tinggal roh yang baik yang dapat memberikan kekuatan  bagi manusia. Inilah berbagai peran pohon, sehingga banyak orang bertapa di hutan, di pohon-pohon besar agar memperoleh kekuatan baik (rejeki).

Kedua,  Pohon berkekuatan jahat.  Dalam pandangan tradisi Manggarai pada pohon besar mempunyai kekuatan jahat. Pohon besar sebagai  tempat tinggal roh-roh jahat: poti wolo, ineweu, acu mese. Poti wolo, ineweu, acu mese adalah nama-nama kekuatan roh jahat dalam versi Manggarai. Roh-roh jahat inilah melekat pada manusia dukun hitam/jahat (ata mbeko janto).

Oleh karena itu leluhur Manggarai melegitimasi peran pohon besar ini untuk di tanam di tengah kampung sebagai bagian tata ruang kebudayaan Manggarai. Dan pada saat orang Manggarai mengadakan penti (syukuran), maka harus mengadakan sesajian di pohon besar (ritus barong compang).

Adapun inti sesajian pada acara ritus barong compang adalah dasor wake celer ngger wa saung bembang ngger eta (semoga pohon tetap tumbuh subur dan rindang untuk melindungi, memberi kesejukkan  dan memberi berkat bagi manusia). Dalam ritus barong compang juga memohon agar dijauhkan dari roh-roh yang jahat.

Atas dasar itu, leluhur Manggarai mengeluarkan suatu seruan norma dalam ritus barong compang  adalah neka ngo one pong dopo agu one ngalor masa (jangan pergi ke tempat kekuatan tumpul/jahat dan jangan pergi ke selokan yang kering), sebab hal itu mendatangkan sial (malapetaka) bagi manusia. (bersambung)

Oleh Adi M Nggoro, Dosen Unika St.Paulus Ruteng, kini tengah melanjutkan studi Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang)

.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini