Bagian Lima : Ritus-Ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Adi M. Nggoro.
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ritus Barong Boa

Barong boa dapat diidentikan dengan adak teing hang kolang. Namun demikian tidak semua adak teing hang kolang hanya dilakukan dalam acara ritus barong boa.

Adapun hal mendasar yang wajib dilakukan saat ritus barong boa dalam tradisi  penti  yaitu: Pertama, membersihkan lokasi kuburan (we’ang boa).

Membersihkan kuburan adalah penting, agar makam keluarga tahu data penelusuruan silsilah keluarga. Makam keluarga (leluhur) merupakan sebuah “bingkai” membangun cinta yang total  sehidup semati sembari menanti datangnya fajar kebahagiaan di alam baka.

Baca juga : Bagian Empat : Ritus-Ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Kedua, bermacam-ragam sifat dan pesan intensi ritus barong boa, yaitu: 

(1) Teing hang kolang latang mose wakar ata poli pa’ang be’le(memberikan santapan rohani yang hangat dan menyejukkan kalbu untuk keselamatan jiwa yang sudah meninggal).

(2)  Tegi ampong sangged ndekok ata poli pande dise one lino kudut nganceng ocok surga (mohon ampun atas segala dosa yang mereka buat sewaktu hidup fi dunia, agar mereka layak masuk surga).

(3). Dasor ise kepe  le tadu lau pangga pa’ang nggaru ngaung  latang te mose de sanggen kilo mese ata ledong dise one lino (semoga mereka menjadi penjaga keluarga yang masih hidup di dunia, dari segala godaan seran).

(4) Naring agu hiang empo ata poli pa’ang be’le ai ise ata wing agu dading (syukur kepada leluhur karena merekalah yang melahirkan kita).

(5) Baro agu siro  empo kudut rewo cama laing one tae penti weki peso beo (melapor serta mengundang roh leluhur  datang memeriahkan tradisi penti).

Ketiga, barong boa membangun persatuan dan kekeluargaan dengan menelusuri kuburan leluhur (kuburan keluarga). Dalam hal darah leluhur yang mengalir pada anak cucu (turunan) mampu mengikat persatuan keluarga.

Di lokasi kuburan jasat-jasad dikubur sesuai pengelompokan sub-sub klan,sehingga mudah telusri dan membakar semangat kebersamaan antara sub-sub klan dalam warga kampung. Kebersamaan sub-sub klan tersebut berdampak mempermudah kebersamaan dalam warga kampung dalam satu turunan umum (klan umum).

Mengapa disebut teing hang kolang. Dalam pemahaman leluhur Manggarai orang yang sudah meninggal masih ada relasi dengan yang masih hidup melalui rohnya. Mereka hidup dalam kedinginan. Mereka tak berdaya. Butuh doa keluarga yang masih hidup agar jiwanya masuk surga. Makanan yang diberikan itu harus sesui kebiasaan makannya waktu masih hidup. Dan acara teing hang kolang pada ritus barong boa, harus dengan hormat (menggunakan piring makan yang baik, sendok serta gelas air).

Beda kalau acara helang/tudak itang laing (doa melepaskan godaan setan yang menggerogoti hidup dan kehidupan kita); dan untuk alas nasi acara helang/tudak itang  tidak usah dengan piring makan/piring yang baik, cukup dengan daun sirih sebagai pegganti piring makan.

Menurut trdisi Manggarai, memberi makan kepada leluhur, bertujun agar dia tidak kelaparan dan haus. Sebab kalau leluhur lapar,dia akan mudah terbuai oleh godaan para supernatural. Sebaliknya kalau leluhur “kenyang” dia selalu setia mendampingi turunannya yang masih hidup.

Jadi, hikmat tradisi teing hang kolang (barong boa) merupakan suatu penegasan bahwa  manusia berasal dari identitas keluarga yang jelas, Berkaitan ini ada suatu filosofi, manusia, toe bengkar one mai belang, bok one mai betong, tetapi manusia lahir dari leluhur (wing agu dading one mai empo).

Bersambung

Oleh Adi M Nggoro, Dosen Unika St.Paulus Ruteng, kini tengah melanjutkan studi Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang)

google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini