Bagian Tiga : Ritus-Ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Adi M. Nggoro.

Ritus Barong Wae

LABUAN BAJ, LBJN — Bagian ke tiga ini kita mengulas ritus barong wae (sesajian di air sumur). Dalam hubungan kekerabatan orang Manggarai, sifat dan peran air digunakan sebagai analogi terhadap makna suatu hubungan kekerabatan. Menurut hukum kekerabatan Manggarai hubungan kekerabatan itu sifatnya permanen/langgeng, bukan hubungan yang temporer (toe salang tuak, salang wae). Bahkan keluarga kerabat pemberi istri (anak rona) dianalogikan sebagai ulu wae (sumber mata iar), yang artinya anak rona dalam pandangan kekerabatan trdisional sebagai sarana penyalur rahmat Tuhan.

Tuhan sendiri sebagai sumber rahmat. Dalam hubungan dengan peranan air Tuhan dianalogikan sebagai   (Mori Jari Dedek:  ulun le wa’in  lau), bahwa Tuhan Pencipta dan Penjadi dari sumber  mata air yang mengalir dari hulu hingga ke hilir.

Air merupakan kebutuhan utama dalam hidup manusia. Air merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Air adalah sumber hidup. Air  dapat menciptakan kehidupan baru, dan tanpa air orang tidak bisa hidup. Karena itu, leluhur Manggarai  menjadikan air sebagai bagian tata ruang kebudayaan Manggarai yang disebut dengan istilah (wae teku). Letak wae teku tidak terlalu jauh dari kampung.

Wae teku yang dimaksud tidak sama dengan pemahaman air sungai. Wae teku adalah tempat air pancur untuk air minum, untuk masak dan selanjutnya untuk dijadikan tempat  mengadakan sesajian (ritus barong wae).

Baca Juga : Bagian Dua : Ritus-Ritus Penti dalam Budaya Manggarai

Ketika orang Manggarai mengadakan penti (syukuran), maka harus mengadakan  ritus barong wae (mengadakan sesajian pada tempat air pancur).  Ritus barong wae tersebut tersingkap makna suatu syukuran dan harapan atas peranan air yang selalu mengalir tiada hentinya untuk menghidupi manusia dan alam sekitarnya (tanaman di kebun dan  serta mahkluk hidup lainnya).  

Penekanan sesajian dalam acara barong wae adalah dasor kembus wae teku mboas wae woang (agar air selalu mengalir tiada hentinya), sehingga tanaman dapat tumbuh subur,  menghijau dan berbuah lebat  (lebo kala, wua raci), dan manusia tercukupi  kebutuhan hidupnya (tela galang, kete api).  

Bersambung

(Oleh Adi M. Nggoro, Dosen Unika St. Paulus Ruteng, kini tengah melanjutkan studi Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini