Fakta Lain tentang PRT Asal Matim, Sembilan Tahun Tidak Digaji Majikan

foto Prischa: Afra Ambol berpose bersama pengacara dan keluarga di Polsek Cengkareng pagi tadi Selasa (22/10/2019).

LABUAN BAJO, LBJN—Afra Ambol, pembantu rumah tangga (PRT) asal Manggarai Timur yang mengalami kekerasan majikan di Jakarta ternyata sudah mengalami siksaan selama sembilan tahun.

Ia pun ternyata selama sembilan tahun bekerja pada majikannya tidak diupah sama sekali sampai ia melarikan diri dengan melompat pagar kemarin Senin (21/10/2019).

Prischa Leda yang mendampingi pertama kali korban di rumah sakit Cengkareng, Jakarta kepada Labuanbajonews.com menceritakan derita yang dialami korban.

“Masih ada bekas luka pada kaki, pada tubuh, pada kepala, pokoknya pada semua tubuhnya,” cerita Prischa per telepon Selasa pagi (22/10/2019).

Prischa mengaku terpanggil mendampingi korban di rumah sakit, karena ia sungguh merasakan sebagai perantau di Kota Jakarta dan tidak mempunyai keluarga.

Afra selama Sembilan tahun, kata Prischa juga tidak pernah menghubungi keluarganya.

“Ia mengaku tidak ada satu pun keluarganya di Jakarta. Ia sendirian. Saya tidak bisa ungkapkan bagaimana perasaan saya saat saya mendengarkan ceritanya,” kata Prischa.

Prischa menceritakan Afra bisa lolos dari  majikan dengan memperdayai majikan membuka lampu di teras rumah. Waktu lengah diijinkan majikannya itu ia manfaatkan untuk kabur dan melompat pagar.

Setelah berhasil keluar dari rumah, Afra langsung ke kantor polisi terdekat. Lalu polisi membawa korban ke rumah sakit, dan langsung memvisum korban.

“Kejadiannya kemarin antara Pukul 5 atau 6 sore. Polisi membawa di ke UGD, dan saya lihat. Melihat dia langsung saya tanya, dari mana. Ia mengaku dari Flores,” kata Prischa.

Prischa mengungkapkan korban dipekerjakan ke Jakarta dengan perantaraan sebuah yayasan. Korban juga diantar oleh orang Manggarai sendiri.

“Jadi yang antar dia ke sini itu orang Manggarai sendiri,” cerita Prischa.

Prischa mengatakan saat ini korban sudah dalam pemulihan dan didampingi oleh pengacara untuk memperjuangkan keadilan. Termasuk hak-hak dia selama sembilan tahun bekerja dengan majikannya.

Meski sibuk dengan pekerjaan, kata Prischa ia mengaku melayani semua panggilan masuk dengan nomor baru dari keluarga korban. Keluarga mencari tahu informasi terakhir tentang keadaan korban.

“Namanya keluarga khawatir, sangat membutuhkan informasi. Jadi saya siap layani telepon keluarganya, dari Manggarai dan dari Bali juga,” kata Prischa.

Prischa mengungkapkan kasus Afra ini bukan satu-satunya. Menurut informasi yang ia peroleh, masih ada warga lain dari NTT yang sampai saat ini keberadaan mereka tidak diketahui oleh keluarga mereka masing-masing.

“Saya dengar cerita dari seorang bupati per telepon kemarin, ada sekitar empat orang lain masing hilang,” kata Prischa.

Prischa berharap kasus serupa tidak terjadi lagi, dan korban harus mendapatkan keadilan serta hak-hak yang diabaikan oleh majikannya selama ini. (L1).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini