Patung Bunda Maria Dari Maumere Itu, Kini Tinggal di Gua Ratu Damai Labuan Bajo

Umat Katolik Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, Mengarak Patung Bunda Maria Menuju Gua Golo Kaca.

LABUAN BAJO, LBJN—Bagi umat Katolik Roma, setiap bulan oktober dijadikan sebagai bulan Maria atau bulan doa Rosario.

Seluruh umat Katolik berdoa bersama bunda Maria selama sebulan dari rumah rumah.

Sebelum melakukan doa dari rumah kerumah, biasanya diawali perayaan misa bersama di Gua Maria yang dipimpin seorang Pastor atau Rohaniawan.

Seperti yang diamatai Labuanbajonews, Selasa (1/10/2019, umat katolik paroki Roh Kudus Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Mengawali bulan Maria, umat paroki setempat melaksanakn ibadat sabda di gereja Roh Kudus Labuan Bajo yang dipimpin langsung pastor paroki Romo Aloisius Gambur Pr.

Perayaan ibadat itu sebagai langka awal menuju misa bersama di beberapa Gua Maria yang ada di kota ujung Barat pulau Flores.

Menariknya hari itu, para umat paroki Roh kudus, secara khusus kelompok Kelompok Basis Gerejani (KBG) St. Karolus Wae Mata, Desa Gorontalo Kecamatan Komodo, usai ibadat langsung melakukan perarakan patung Bunda Maria dengan tinggi 1.5 meter.

Patung itu dikabarkan barusan tiba dari Maumere kabupaten sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pertama kali dibawakan ke labuan Bajo, patung itu diarak dari gereja Roh Kudus melintasi perempatan Wae Mata menuju sebuah bukit dibukit yang bernama bukit Kaca Wae Mata, Desa Gorontalo, Kecamatan Komodo Mabar.

Perarakan diikuti umat KBG St. karolus Wae Mata bersama umat dari KBG laiinya separoki Roh Kudus.

Aparat polres setempat bersama Dinas Perhubungan Mabar, turut mengkawal prosesi perarakan.

Menggunakan sebuah mobil terbuka, Patung Bunda Maria itu diapiti sejumlah umat dan anggota THS THM.

Berhenti tepat didepan Masjid Nurul Fala Wae Mata, Patung bunda maria itu diturunkan dari sebuah mobil dan di bopong menuju gua yang jaraknya sekitar 300 meter.

Sebelum mencapai Gua tepatnya diujung aspal, para tetua adat Wae Mata sudah sejak lama menungggu kehadiran patung itu.

Mereka lalu melakukan ritual adat penjemputan patung.

Patung itu lalu dikalungi salendang tenun manggarai bak gadis cantik.

Para tetua adat itu menyampaikan ucapakan rasa syukur menggunakan bahasa adat Mabar.

Bagi mereka patung Bunda Maria itu ibarat ibu yang datang menyejukan hati anak- anaknya.

“Ine ho naka lami ite.Beheng le hami gereng cai dite ku pande gerak nai de hami anak. Ho kali ite caid, naka lami ite ine,” ujar salah satu tokoh adat, sambil menyerahkan seekor ayam jantan putih yang diterima langsung Romo Vikaris Epis Kopal (Vikep) Labuan Bajo, Romo Rikardus Mangun Pr.

Usai prosesi adat, Patung Bunda Maria itu kembali dibopong menuju Gua yang lokasinya diatas bukit, dengan ketinggian kisaran 300 meter dari jalan raya Wae Mata.

Ratusan umat, mengikuti prosesi itu sambil mengkidungkan madah pujian kepada Bunda Maria.

Diatas bukit tempat Gua itu berada sudah dibangun Gua yang tingginya sekitar 2.5 meter.

Di depan Gua, di Bukit Kaca Wae Mata itu ratusan umat Katolik sudah sejak dua jam menunggu kehadiran patung.

Bahkan mereka membangun tenda yang dipersiapkan bagi umat lain yang dijadwalkan mengikuti misa

Patung itu lalu diletakan diatas sebuah meja depan gua.

Memakai jubah putih, tiga orang pastor berdiri tepat didepan patung untuk memimpin misa.

Dari atas bukit kaca atau dari lokasi Gua pemandangannya benar-benar spektakuler.

Seluruh isi kota labuan Bajo dapat dilihat terang benderang demkian juga dermaga Pelni Labuan Bajo, terlihat jelas dari pandangan mat. Bahkan  mobilitas kapal-kapal didermaga itu Nampak terlihat dari lokasi Gua.

Begitu juga bandara Komodo.Terlihat jelas konstruksi bangunan bandara saat berada di Gua itu. Bahkan sebuah pesawat Batik Air terpantau sedang parkir dilandasan bandara komodo, selasa petang.

Lokasi Gua itu tidak berada jauh dari sebuah Masjid wae Mata, hanya dengan jarak pandang mata sekirar 100 meter.

Disekitar lokasi,  sudah ada beberapa bangunan permanen rumah warga. Baik warga umat katolik juga warga non katolik.

Sebelum misa dimulai, Marsel Lukman selaku pemandu misa menyampaikan terima kasih berlimpa kepada semua umat dan para donatur yang dengan tulus menyumbang patung dan juga berkontribusi untuk pembangunan Gua

Lukman mengaku kian lama menenantikan kedamaian ditengah kemajemukan kota Labuan Bajo.

“Ditempat ini kita semua diharapkan mendapat kedamaian. selama ini susah sekali kita mendapat kedamaian ditengah kemajemukan,” ujar Lukman menggunakan pengeras suara

Kata Lukman, Gua yang baru saja dibangun itu diharapkan menjadi sejarah baru bagi siarah kehidupan umat katolik agar lebih dekat dengan Bunda Maria

“Hari ini menjadi hari yang paling sejara bagi kita semua.Semoga kedamain menaungi kita kedepannya,” tutup Lukman

Vikep Labuan Bajo, Romo Rikar Manggu didampingi Pastor Paroki Rm Aloisius Gambur bersama Romo Silvi Mongko Pr memimpin secara bersama perayaan misa itu.

Dalam kotbahnya Rm Rikard berharap umat selalu bersama bunda Maria dalam setiap perjanan hidup.

Ia juga mengajak umat katolik untuk mengikuti hidup bunda Maria yang berkorban secara tulus.

“Terima kasih banyak kepada seluruh umat dan para donatur, sehingg Gua selesai dibangun,” ujar Rm Rikar.

Selanjutnya Romo Rikard meresmikan Gua itu dan mengangkat patung yang sebelumnya diletakan di sebuah meja untuk ditaruh didalam Gua yang baru saja dibangun

“Secara resmi saya resmikan Gua Maria Ratu Damai,” kata Rm Rikar

Kepala Desa Gorontalo yang juga umat katolik KBG St. Karolus, mengatakan lokasi tanah Gua merupakan tanah ulayat masyarakat Wae Mata.

“Soal lahan hasil penelusuran kita tidak ada masalah.Kedepan kita akan upayakan melalui dana desa pembangunan stapak,” kata Ubin.

Menurutnya, kehadiran Gua itu kedepannya bisa berpotensi sebagai kawasan wisatan rohani.

“Kalau gereja menyerahkan ke desa, tentu kita pasti siap mengelola kawasan ini. Kita lihat saja kedepannya, tergantung pihak gereja,” kata Ubin.

Ketua pembangunan Gua, Mateus Jemali, menjelaskan pembangunan Gua itu masih belum selesai akibat keterbatasan dana. Hingga saat kondisi bangunan belum mencapai 100 persen.

Meski demikian, Jemali mengaku bersyukur pada hari ini bangungan Gua itu diresmikan.

“Total biaya selama ini 120 juta bersumber dari swadaya umat,”

Menururnya, meski mengalami kekurangan uang, pihaknya bersama seluruh panitia sangat optimis.Karena selain didukung umat katolik, umat dari agam lainpun turun donasi

“Saudari dari agama islam disekitar Wae Mata, dan juga saudara- saudara dari agama Hindu, Budha dan protestan turut menyumbang uang.Baik yang ada di labuan bajo maupun diluar labuan bajo,” kata Jemali.

Sementara Patung Bunda Maria Kata Jemali, didonasi pendonor dari Maumere.

“Dari ruteng juga  ada yang sumbang. Sedangkan patung dengan tinggi 1.5 meter donasi dari  pa Junto sekeluarga asal Maumere,” katanya.

Selain umat beragama lain, Jemali juga mengaku dapat sumbangan dari pemda Mabar.

“Pemda 4 juta tapi belum pasti apakah dari bupati sebagai pribadi atau pemda sendiri saya belum bisa jelaskan,”

Menurut Jemali,luas lahan gua itu 200 meter persegi. lahan itu merupakan tanah masyarakat wae mata yang sejak lama disediakan untuk kepentingan umum.

“Penunjukan lokas dari tokoh islam pendahulu di wae mata yakni Ibrahim Hanta, dan Ongkor,”

Masjid Nurul Fala Wae Mata, Berjarak Sekitar 100 meter Pandangan Mata dari Lokasi Gua Golo Kaca, Labuan Bajo.

Jemali berharap kedepannya Gua itu bisa ditata secara optimal. Dan saat ini kata dia pembangunannya belum mencapai 100 persen akibat ketiadaan dana.

“Awal muawal atau motivasi kita membangun gua ini, seiring kemajuan labuan bajo secara global. Gua ini diharapkan Salah satu sarana pertumbuhan iman ditengah kemajuan kota yang kian pesat. Gua ini kami rintis untuk menggambarkan toleransi karena yang lahir ide orang islam,” ujarnya. (L3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini