Bagian Satu: Ritus-Ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Adi M. Nggoro.

Bagian Satu: Ritus Libur Kilo

Pada hakikatnya peradaban budaya bersyukur hampir dipraktikan oleh setiap suku bangsa di belahan dunia ini. Namun demikian prosesi dan segi material bersyukur tidak sama persis di setiap suku bangsa.

Hal itu di Manggarai juga  mempunyai peradaban budaya bersyukur yang dikenal dengan sebutan “Penti”. Penti itu sendiri adalah tradisi bersyukur kepada Tuhan (Mori Jari Dedek: tanan wa awang eta, par awo kolep sale, ulun le wain lau).

Ungkapan rasa syukur diimplementasikan oleh dan dalam paguyuban keluarga diiringi nuansa kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan dengan semangat sukacita. Syukuran itu diungkapkan dalam realita sosial, bukan dalam realita individualistis (hanya mementingkan diri sendiri).

Karena itu filosofi “penti weki peso beo” mengungkapkan makna terdalam atas syukuran rahmat Tuhan  dalam diri manusia dan alam sekitarnya.   

Berkaitan itu berbagai prosesi material penti:  we’ang boa (sesajian di kubur), barong wae (sesajian di air sumur), tudak one compang (sesajian di compang), dan acara libur kilo.

Kita mulai mengulas tentang libur kilo. Libur kilo adalah bagian dari tradisi Penti di Manggarai. Oleh karena itu, setiap  acara Penti (penti beo=syukuran kampung), penti kilo (syukuran keluarga), penti Ongko Gejur (syukuran hasilpanen), penti waling ntaung (syukuran tahunan) harus ada acara libur kilo.

Baca Juga : Bagian Dua : Ritus-Ritus dalam Penti Budaya Manggarai

Tradisi libur kilo merupakan pusat syukuran penti (diri manusia sebagai pusat bersyukur dan disyukuri). Oleh karena itu ada dua mata acara penting dalam hal bersyukur pada tradisi libur kilo: Pertama, mengadakan sesajian penti umum di mbaru gendang (seluruh warga berkumpul mengadakan sesajian dan makan bersama di rumah adat).  

Keluarga kerabat yang hadir yaitu: asekae (kerabat patrilineal), anak rona (kerabat pemberi istri), anak wina (kerabat penerima istri) pa’ang ngaung (kerabat tetangga).

Kedua, mengadakan sesajian penti khusus, yaitu setelah mengadakan penti umum  di rumah adat dilanjutkan dengan penti khusus di rumah-rumah keluarga (mbaru bendar). Penyelenggara syukuran di rumah-rumah bendar adalah sub-sub klan dalam marga kampung.

Syukuran di rumah-rumah keluarga (mbaru bendar) memunculkan intensi doa syukur secara spesifik sesuai pengalaman hidup setiap keluarga.  (bersambung)

( Oleh Adi M.Nggoro, Dosen Unika Santo Paulus Ruteng, kini tengah melanjutkan studi Program Doktoral  Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang).  

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini