Bagian Tujuh : Ritus-Ritus Penti dalam Budaya Manggarai

Adi M. Nggoro.
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0
google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ritus Sanda Lima

Ritus sanda lima adalah sebuah ritus penti yang cukup unik karena ritus ini dilakukan  sebelum pelaksanaan penti dan berakhir di hari puncak pelaksanaan penti.

Sanda lima adalah suatu tarian sakral budaya daerah Manggarai dengan posisi berbaris teratur membentuk lingkaran sambil menyanyi antara laki-laki dan perempuan dengan memakai pakaian adat yang berlaku, yang dilakukan di rumah adat (mbaru gendang) dilakukan pada malam hari dalam nuansa sukacita.

Sanda lima dilakukan selam lima malam dan merujuk pada  tema umum penti. Sanda memuat lima bait lagu yang harus dinyanyikan dalam sanda lima. Dinyanyikan secara bersambung, tidak boleh terputus menyanyikan syair lagunya.    

Melalui sanda lima juga tidak hanya dipandang sebagai tarian sakral dalam budaya penti, untuk menggiring suasana batin warga kampung yang akan mengadakan penti. Warga diarahkan perhatian dan suasana batin untuk bersyukur pada Tuhan, berterimakasih kepada leluhur dan alam sekiranya dan membangun keakraban sesama keluarga kerabat.

Sanda lima juga adalah suatu pendekatan relasi kemanusiaan untuk bisa mengakrabkan diri satu dengan yang lain tanpa harus terikat pada hubungan kekerabatan saja.

Mengapa demikian, karena melalui kegiatan sanda lima merupakan momentum  untuk membagi sukacita dari warga kampung (keluarga) yang sedang melaksanakan penti  kepada masyarakat umum (di luar keluarga kerabat yang melaksanakan penti).

Karena dalam acara sanda lima terbuka untuk umum untuk terlibat dalam tarian sanda lima.  Masyarakat umum di sekitarnya baik yang diundang maupun tidak diundang bisa hadir dan terlibat ikut menari dalam sanda lima.

Jadi, sanda lima adalah suatu ritual adat penti  melewati prosesi yang panjang: baik dari segi simbol syair lagunya, maupun waktunya dipentaskan (sebelum dan sampai hari penti) sebagai pertanda makna siarah hidup manusia sejak lahir berkarya sampai ke liang lahat.

Oleh karena itu sangat tepat filosofi Manggarai, dere cama tombo, tombo cama dere (beryanyi sama dengan berbicara, berbicara sama dengan bernyanyi).

Oleh Adi M Nggoro, Dosen Unika St.Paulus Ruteng, kini tengah melanjutkan studi Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang)

google.com, pub-5332806438229511, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini