Pelecehan Seksual Pelajar di Mabar, Ibu Korban: Ada Upaya Damai Difasilitasi Oknum Polisi dengan Iming Uang

Suster Yosefina Palawati, SsPS

LABUAN BAJO, LBJN — Pelecehan seksual terhadap pelajar SD oleh oknum guru olahraga di Macang Pacar, Manggarai Barat, NTT masih menyisakan trauma bagi ibunda korban.

KJ, ibunda korban di Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak Labuan Bajo kepada para pewarta Selasa malam (5/11/2019) mengungkapkan ada upaya pendamaian oleh oknum polisi sebelum kasus itu ditangani unit PPA Polres Mabar.

Didampingi Koordinator RPPA Labuan Bajo Suster Suster Yosefina Palawati, SsPS,  selain oknum polisi, ada juga oknum PNS menceritakan kesulitan yang akan dialaminya jika kasus itu dibawa ke ranah hukum.

Alasan yang disampaikan oknum polisi bersangkutan, kata KJ, karena pelecehan seksual tersebut tidak sampai terjadi hubungan badan dan polisi akan sulit membuktikan kasus tersebut.

Sementara oknum PNS, kata KJ, menceritakan kesulitan yang dihadapi menunggu lama proses hukum di Labuan Bajo.

Yang membuat KJ tersinggung, terkait upaya pendamaian yang mengimingi keluarga korban akan menerima sejumlah uang.

“Saya butuh keadilan  untuk anak saya. Hati saya sakit sekali,” kata KJ sambil menyeka air matanya.

Sementara Suster Yosefina menilai upaya kepolisian untuk mencari pendamaian terhadap kasus pelecehan seksual mungkin sebuah kekeliruan.

“Mungkin maksud mereka baik, tapi pada kasus yang salah,” kata Suster Yosefina.

Menurut Suster Yosefina tidak ada unsur pemaaf bagi semua pelecehan terhadap anak, apalagi dilakukan oleh seorang guru yang seharusnya menjadi teladan dan pelindung bagi korban.  

Suster Yosefina menaruh harapan tinggi kepada para penegak hukum, terutama anggota di Polsek untuk memahami prosedur penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Jangan mudahkan persoalan menyangkut kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak,” kata Yosefina.

Kapolsek Bari: Kesepakatan Antara Keluarga Mereka di Kampung

Kapolsek Macang Pacar Iptu Muhammad Yakub menjelaskan upaya pendamaian itu kesepakatan antara keluarga kedua belah pihak. Sesuai kesepakatan keduanya, pelaku membayar uang denda sebesar Rp.10 Juta dan Babi Besar.

Namun dalam proses kenyataan, keluarga pelaku hanya membaya uang Rp.4 Juta dan Babi kecil. Karena itu keluarga korban tidak menerima, sehingga kasus itu dilaporkan ke polisi.

Iptu Yakub menegaskan tidak ada keterlibatan anggota dalam proses perdamaian itu. Yang dibicarakan polisi saat ibu korban ke Polsek, bahwa pelaku sudah diamankan dan masih menunggu untuk membawa kasus itu ke PPA Polres Mabar di Labuan Bajo.

Iptu Yakub mengaku kesulitan berkomunikasi dengan ibu korban karena ibu korban tidak mengerti bahasa Indonesia. Sementara Kapolsek Yakub mengaku tidak bisa berbahasa Manggarai.

Ia menegaskan polisi sangat paham kasus pelecehan seksual itu kasus sangat sensitif dan kategori luar biasa. Tidak mungkin bisa diselesaikan secara damai.

“Kesepakatan damai itu kesepakatan keluarga dua pihak, tidak ada polisi di dalamnya,” tegas Yakub.

Minta Dinas PPA Proaktif Memproteksi Korban

Suster Yosefina meminta Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Manggarai Barat lebih pro aktif untuk memberikan perlindungan kepada para korban pelecehan seksual.

“Kita pertanyakan langkah Dinas PPA terhadap para korban pelecehan seksual seperti ini apa? Kami ini tidak bisa jalan sendiri, butuh dukungan nyata pemerintah,” kata Suster Yosefina.

Suster Yosefina mengharapkan pemerintah lebih intensif melakukan sosialisasi ke sekolah, agar anak usia SD dan SMP tahu bagaimana mereka memproteksi dari dari ulah oknum guru di sekolah.

“Perlu upaya pencegahan dengan melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah. Memberikan pemahaman kepada anak-anak bagaimana mereka melindungi diri dari pelehan seksual,” kata Suster Yosefina. (L1).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini