Tolak Geothermal, Masyarakat Wae Sano Datangi Kantor DPRD Mabar

Warga Wae Sano di gedung DPRD Mabar, Kamis (13/2/2020).

LABUAN BAJO, LBJN — Tolak eksplorasi geothermal, warga Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat (Mabar) NTT, datangi kantor Bupati Mabar dan  Gedung DPRD Mabar, Kamis (13/2/2020).

Mereka yang hadir terdiri dari masyarakat adat, pemilik lahan, perempuan, orang muda, serta masyarakat yang terkena dampak rencana eksploitasi geothermal.

Usai mengadakan aksi diam di Kantor Bupati Mabar, masyarakat Wae Sano mendatangi kantor DPRD Mabar.

Di kantor perwakilan rakyat itu, mereka diterima di ruang internal DPRD.

Salah satu point tuntutan masyarakat Wae Sano hari itu, yakni mendesak DPRD Mabar dan Pemda Mabar untuk segera meneruskan sikap masyarakat terkait penolakan eksplorasi geothermal Wae Sano.

Menanggapi tuntutan masyarakat, anggota DPRD Mabar Marsel Jeramun meminta penjelasan masyarakat terkait situasi yang terjadi, saat dilakukan sosialisasi ekplorasi geothermal pada tanggal,  10 Februari 2020 di Wae Sano.

Menurut Marsel, hasil sosialisasi yang baru saja digelar di Wae Sano itu, kini dibahas di Komisi IV DPR RI.

“Terakhir yang saya dengar, pada tanggal 10 Februari 2020 dilakukan sosialisasi di Wae Sano. DPRD Mabar tidak diundang. Tapi konon, semua pemangku kepentingan hadir saat sosialisasi. Kami tidak tahu, hasil sosialisasi saat itu. Informasi yang saya peroleh, hasil sosialisasi itu, sedang dibahas di pusat, hari ini. Apakah point-point tuntutan yang dimasukan hari ini sudah disampaikan secara terang benderang saat sosialisasi,“ kata Marsel Jeramun.  

Menanggapi komentar Marsel Jeramun, Pater Simon yang mewakili masyarakat Wae Sano menjelaskan situasi yang terjadi saat dilakukan sosialisasi di Wae Sano.

Menurut Pater Simon, sosialisasi pada tanggal, 10 Februari 2020 itu dihadiri oleh banyak pihak, termasuk Bupati Mabar, anggota DPRD NTT, pihak PT SMI, Para kepala desa, tokoh masyarakat, juga hadir utusan dari Kementerian.

Masyarakat Wae Sano yang pro dan kontra terhadap eksplorasi geothermal juga hadir saat itu.

“Saat sosialisasi, pihak kontra eksplorasi dengan tegas menolak dan walk out dari ruang sosialisasi, sebelum sosialisasi itu selesai. Di akhir sosialisasi, moderator kegiatan, Plt. Sekda Mabar menyimpulkan, sosialisasi tidak menghasilkan kesepakatan. Dengan kata lain, belum ada keputusan final,” kata Pater Simon.

Ia menambahkan, kini masyarakat Wae sano terbelah menjadi tiga yakni Kelompok pro, kelompok kontra dan yang abu-abu.

“Konflik sosial antara kelompok pro dan kontra sangat nyata. Tensi argumentasi kelompok pro dan kontra sangat memanas,” tambah Pater Simon.

Di tempat terpisah, Yosef Erwin Rahmat perwakilan masyarakat Wae Sano menyampaikan beberapa point penolakan geothermal Wae Sano.

Menurutnya, proyek eksplorasi geothermal mengancam keutuhan ruang hidup masyarakat.

Ruang hidup yang dimaksud yakni, kesatuan yang utuh dari kampung halaman (golo lonto, mbaru kaeng, natas labar), kebun mata pencaharian (uma duat), sumber air (wae teku), pusat kehidupan adat (compang takung, mbaru adat), kuburan (lepah boak), hutan dan danau (puar dan sano), rumah ibadah (gereja) dan sarana publik (seperti sekolah).

“Kami sekali lagi menyatakan dengan tegas ketetapan hati kami, menolak proyek geothermal ini. kawasan Wae Sano dan sekitarnya adalah juga kawasan pertanian dan perkebunan, konservasi dan memiliki potensi besar untuk pariwisata. Karena itu kami mengharapkan pemerintah untuk meningkatkan pengembangan pertanian, usaha-usaha konservasi dan pariwisata berbasis masyarakat tanpa investasi kaum kapitalis,” tegas Yosef Erwin Rahmat. (L5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini